Takkan
Pernah Terlupakan
Karya :
Nadiya Azhari 9E
Sahabat..... Ya kami berdua memang sahabat. Aku
selalu pergi berdua dengannya kemanapun itu. Aku begitu dekat dengannya. Panggil
saja aku Rara, aku memiliki sahabat yang bernama Ayu. Persahabatan kami kala
itu bagaikan bumi dan langit, tidak bisa terpisahkan. Maklum karena rumah kami
dekat, kami bisa mengerjakan sesuatu yang dianggap sulit berdua. Aku menganggap
dia sebagai orang yang bisa mengertiku dalam keadaan apapun. Dia selalu bisa
memberikan jalan keluar disetiap masalah yang aku alami. Persahabatan kami
jarang diterpa dengan berbagai masalah. Maklum kami berdua sadar persahabatan
harus dijaga walaupun itu diterpa dengan masalah yang besar sekalipun.
Namun
seiring waktu berjalan, aku akui waktu berjalan sangat cepat, aku tidak
menyangka, ternyata kami sekarang sudah naik kelas 9. Namun setelah kenaikan
kelas 9 persahabatan kami mulai diterpa dengan berbagai macam masalah ntah itu
masalah yang kecil maupun besar sekalipun. Tapi untungnya kami bisa melewati
masalah itu dengan kepala dingin. Tuhan masih menginginkan kami berdua
bersahabat. Permasalahan ini mungkin muncul karena kami merasa tidak sejalan
lagi. Memang sejak kelas 9 kami tidak satu kelas lagi. Mungkin inilah yang
menyebabkan terjadinya banyak masalah. Lama kelamaan aku merasa ada yang
mengganjal dengan persahabatan kami berdua. Aku merasa Ayu sudah tidak seperti
dulu lagi. Sekarang kalau kami berdua berbicara, tidak pernah nyambung. Ayu
lebih sering marah-marah. Aku memaklumi ini semua, karena aku pikir Ayu sedang
ada masalah dirumahnya yang mungkin aku tidak harus mengetahuinya. Dengan
keadaan seperti ini aku hanya memilih diam daripada aku harus menanyakan apa
yang terjadi kepada Ayu, aku tidak mau Ayu tambah marah-marah kepadaku. Rupanya
sikap diamku ini malah mendapat respon negativ dari Ayu.
Suatu hari
dirumah sekolah ketika jam pulang sekolah berbunyi, dan aku keluar kelas
ternyata Ayu sudah menungguku dikursi depan sekolahku.
“Rara, kok
sekarang kamu berubah yah, aku pikir kamu sahabat yang bisa mengerti keadaanku,
namun ternyata aku salah”. Ayu berbicara kasar kepadaku.
“Maksudmu
apa Yu?, kok kamu datang-datang langsung marah-marah kepadaku sih.” jawabku
dengan wajah yang bingung.
“Rara, aku
marah-marah karena ini semua memang salahmu, kalau kamu tidak mendiamkan aku
seperti ini, kan nggak mungkin aku marah-marah sama kamu.” kata Ayu lagi.
“Oh.. Jadi
selama ini kamu menganggap aku mendiamkanmu, bukan maksudku ingin mendiamkanmu
Yu, aku hanya tidak ingin mencampuri urusanmu, nanti kalau aku malah bertanya
kepadamu, kamu pasti akan marah-marah kepadaku” ujarku dengan lembut.
“Begitukah
seharusnya sikap sahabat ketika melihat sahabat lainnya mempunyai masalah,
mendiamkan tanpa memberikan semangat kepadanya.” Ayu berkata, kali ini air
matanya hampir jatuh.
(Aku
semakin bingung, dalam hati aku berpikir perkataan Ayu tadi memang ada
benarnya, kenapa aku tidak pernah menanyakan kepada dia langsung apa
penyebabnya dia sering marah-marah tidak jelas, kalau aku tau masalahnya kan
setidaknya aku bisa memberikan semangat dan jalan keluar kepadanya, namun
dilain arah aku juga merasa Ayu terlalu egois kepadaku).
“Hm....
memang ini juga salahku Yu, maafkan aku, tidak ada maksudku untuk membuat
hatimu terluka.” kali ini aku berkata dengan memohon kepadanya.
“ Sudahlah
Ra, semuanya sudah terlambat. Aku memaafkanmu namun hatiku terlanjur sakit,
ternyata tidak ada yang dapat mengerti perasaanku bahkan sahabat yang aku
anggap sebagai saudaraku sendiri, mungkin persahabatan kita harus berakhir
sampai disini.” Ayu berkata sambil berlari pergi meninggalkanku.
Mendengar
Ayu berkata seperti itu hatiku rasanya sakit sekali, benarkah yang Ayu katakan
barusan, persahabatan kami harus berakhir cukup sampai disini. Tuhan, haruskah
persahabatan ini, persahabatan yang kami bangun kurang lebih 3 tahun harus
berakhri sampai disini. Hanya karena masalah sekecil itu aku harus kehilangan
sahabatku yang selalu hadir disetiap hari-hariku. Mungkin ini memang salahku,
aku tidak boleh menyalahkan Ayu atau siapapun. Ini semua karena kebodohanku
yang tidak pernah mengerti perasaan sahabatku sendiri. Pokoknya walaupun Ayu
sudah tidak menganggapku sahabat, dia dan semua kenangan terindah yang sudah
kami buat takkan pernah terlupakan dalam ingatanku.
Sejak
masalah persahabatanku berakhir, aku lebih suka menyendiri, aku lebih suka
merenungi semua masa laluku. Semua memori kenangan indah bersama Ayu terus
berputar-putar di otakku. Lama kelamaan aku malas untuk bertemu orang, malas
untuk pergi beraktivitas, dan malas untuk makan. Tapi dibalik itu semua aku
masih penasaran apa yang membuat Ayu dulu sering marah-marah kepadaku. Segala
cara aku jalani untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayu.
Sampai
suatu saat aku berjalan dari perpustakan ke kelasku....
“Ra, ra, tunggu.......” Gita mengejarku.
“ Ada apa git, kayaknya ada yang penting
nih?.” ujarku dengan penuh senyum.
“Hm.. Begini Ra, maaf aku harus
menyampaikan berita ini aku harap kamu tidak terkejut mendengar berita ini,
untuk kesekian kalinya Ayu tidak masuk sekolah lagi, dia tidak masuk sekolah
karena...........” Gita tidak berani melanjutkan kata-katanya ia terlihat
sangat gugup.
“Ada apa dengan Ayu? Apa yang sedang
terjadi kepadanya?.” aku bertanya dengan nada khawatir.
“Ayu tidak masuk sekolah karena Ibunya
masuk rumah sakit lagi. Aku dengar kali ini Ibunya mengalami penyakit yang
sudah sangat parah dan harus dioperasi.” Gita menyampaikan dengan nada sedih.
(Aku sontak terkejut dengan berita ini,
berarti selama ini Ayu terlihat gelisah dan sering marah-marah kepadaku karena
ibunya menderita penyakit yang sangat parah, ia tidak tahu lagi harus
bagaimana, ia sudah tidak mempunyai seorang Ayah yang akan membuatnya tenang,
Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih duduk di kelas 4 SD)
Sorenya kemudian aku pergi kerumah
sakit. Disana aku melihat Ayu sedang duduk didepan salah satu kamar rumah
sakit, mungkin itu kamar ibunya. Aku segera menghampirinya.
“Yu, bagaimana keadaan ibumu?.” tanyaku,
mendengar aku ada didekatnya Ayu terkejut.
“Ibu... ibuku ada didalam, kata dokter
ibuku harus segera dioperasi besok pagi, aku tidak tau harus bagaimana, aku
tidak tega melihat ibuku bila harus dioperasi, aku tidak mau kehilangan ibuku.”
Ayu berkata sambil menangis.
“Aku mengerti Yu, yang sabar ya, aku
yakin Tuhan memiliki rencana yang indah dibalik semua ini.” aku memeluk Ayu
sambil menenangkannya.
“Terima kasih Ra, sudah memberikan
semangat kepadaku, maafkan sikapku dahulu yang sering marah-marah kepadamu. Aku
menyesal dengan apa yang telah aku ucapkan kepadamu.” Ayu berkata tergagap.
“Aku sudah lama memaafkanmu Yu, aku
harap kita bisa bersahabat seperti dahulu lagi.” aku berkata dengan nada penuh
harapan.
“Iya Ra, aku masih menganggapmu sahabat.”
Ayu mengangguk pasti.
Kami pun akhirnya bersahabat seperti
dulu lagi, kali ini persahabatan kami terasa lebih indah karena aku dan Ayu
sudah sama-sama berpikir dewasa. Ibu Ayu pun akhirnya sembuh setelah dioperasi
dan diangkat penyakit tumornya. Kenangan manis dan pahit ini tak akan pernah
aku lupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar