Sabtu, 15 Desember 2012

Takkan Pernah Terlupakan


Takkan Pernah Terlupakan
Karya : Nadiya Azhari 9E
     Sahabat..... Ya kami berdua memang sahabat. Aku selalu pergi berdua dengannya kemanapun itu. Aku begitu dekat dengannya. Panggil saja aku Rara, aku memiliki sahabat yang bernama Ayu. Persahabatan kami kala itu bagaikan bumi dan langit, tidak bisa terpisahkan. Maklum karena rumah kami dekat, kami bisa mengerjakan sesuatu yang dianggap sulit berdua. Aku menganggap dia sebagai orang yang bisa mengertiku dalam keadaan apapun. Dia selalu bisa memberikan jalan keluar disetiap masalah yang aku alami. Persahabatan kami jarang diterpa dengan berbagai masalah. Maklum kami berdua sadar persahabatan harus dijaga walaupun itu diterpa dengan masalah yang besar sekalipun.
Namun seiring waktu berjalan, aku akui waktu berjalan sangat cepat, aku tidak menyangka, ternyata kami sekarang sudah naik kelas 9. Namun setelah kenaikan kelas 9 persahabatan kami mulai diterpa dengan berbagai macam masalah ntah itu masalah yang kecil maupun besar sekalipun. Tapi untungnya kami bisa melewati masalah itu dengan kepala dingin. Tuhan masih menginginkan kami berdua bersahabat. Permasalahan ini mungkin muncul karena kami merasa tidak sejalan lagi. Memang sejak kelas 9 kami tidak satu kelas lagi. Mungkin inilah yang menyebabkan terjadinya banyak masalah. Lama kelamaan aku merasa ada yang mengganjal dengan persahabatan kami berdua. Aku merasa Ayu sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang kalau kami berdua berbicara, tidak pernah nyambung. Ayu lebih sering marah-marah. Aku memaklumi ini semua, karena aku pikir Ayu sedang ada masalah dirumahnya yang mungkin aku tidak harus mengetahuinya. Dengan keadaan seperti ini aku hanya memilih diam daripada aku harus menanyakan apa yang terjadi kepada Ayu, aku tidak mau Ayu tambah marah-marah kepadaku. Rupanya sikap diamku ini malah mendapat respon negativ dari Ayu.
Suatu hari dirumah sekolah ketika jam pulang sekolah berbunyi, dan aku keluar kelas ternyata Ayu sudah menungguku dikursi depan sekolahku.
“Rara, kok sekarang kamu berubah yah, aku pikir kamu sahabat yang bisa mengerti keadaanku, namun ternyata aku salah”. Ayu berbicara kasar kepadaku.
“Maksudmu apa Yu?, kok kamu datang-datang langsung marah-marah kepadaku sih.” jawabku dengan wajah yang bingung.
“Rara, aku marah-marah karena ini semua memang salahmu, kalau kamu tidak mendiamkan aku seperti ini, kan nggak mungkin aku marah-marah sama kamu.” kata Ayu lagi.
“Oh.. Jadi selama ini kamu menganggap aku mendiamkanmu, bukan maksudku ingin mendiamkanmu Yu, aku hanya tidak ingin mencampuri urusanmu, nanti kalau aku malah bertanya kepadamu, kamu pasti akan marah-marah kepadaku” ujarku dengan lembut.
“Begitukah seharusnya sikap sahabat ketika melihat sahabat lainnya mempunyai masalah, mendiamkan tanpa memberikan semangat kepadanya.” Ayu berkata, kali ini air matanya hampir jatuh.
(Aku semakin bingung, dalam hati aku berpikir perkataan Ayu tadi memang ada benarnya, kenapa aku tidak pernah menanyakan kepada dia langsung apa penyebabnya dia sering marah-marah tidak jelas, kalau aku tau masalahnya kan setidaknya aku bisa memberikan semangat dan jalan keluar kepadanya, namun dilain arah aku juga merasa Ayu terlalu egois kepadaku).
“Hm.... memang ini juga salahku Yu, maafkan aku, tidak ada maksudku untuk membuat hatimu terluka.” kali ini aku berkata dengan memohon kepadanya.
“ Sudahlah Ra, semuanya sudah terlambat. Aku memaafkanmu namun hatiku terlanjur sakit, ternyata tidak ada yang dapat mengerti perasaanku bahkan sahabat yang aku anggap sebagai saudaraku sendiri, mungkin persahabatan kita harus berakhir sampai disini.” Ayu berkata sambil berlari pergi meninggalkanku.
Mendengar Ayu berkata seperti itu hatiku rasanya sakit sekali, benarkah yang Ayu katakan barusan, persahabatan kami harus berakhir cukup sampai disini. Tuhan, haruskah persahabatan ini, persahabatan yang kami bangun kurang lebih 3 tahun harus berakhri sampai disini. Hanya karena masalah sekecil itu aku harus kehilangan sahabatku yang selalu hadir disetiap hari-hariku. Mungkin ini memang salahku, aku tidak boleh menyalahkan Ayu atau siapapun. Ini semua karena kebodohanku yang tidak pernah mengerti perasaan sahabatku sendiri. Pokoknya walaupun Ayu sudah tidak menganggapku sahabat, dia dan semua kenangan terindah yang sudah kami buat takkan pernah terlupakan dalam ingatanku.
Sejak masalah persahabatanku berakhir, aku lebih suka menyendiri, aku lebih suka merenungi semua masa laluku. Semua memori kenangan indah bersama Ayu terus berputar-putar di otakku. Lama kelamaan aku malas untuk bertemu orang, malas untuk pergi beraktivitas, dan malas untuk makan. Tapi dibalik itu semua aku masih penasaran apa yang membuat Ayu dulu sering marah-marah kepadaku. Segala cara aku jalani untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Ayu.
Sampai suatu saat aku berjalan dari perpustakan ke kelasku....
        “Ra, ra, tunggu.......” Gita mengejarku.
        “ Ada apa git, kayaknya ada yang penting nih?.” ujarku dengan penuh senyum.
        “Hm.. Begini Ra, maaf aku harus menyampaikan berita ini aku harap kamu tidak terkejut mendengar berita ini, untuk kesekian kalinya Ayu tidak masuk sekolah lagi, dia tidak masuk sekolah karena...........” Gita tidak berani melanjutkan kata-katanya ia terlihat sangat gugup.
        “Ada apa dengan Ayu? Apa yang sedang terjadi kepadanya?.” aku bertanya dengan nada khawatir.
        “Ayu tidak masuk sekolah karena Ibunya masuk rumah sakit lagi. Aku dengar kali ini Ibunya mengalami penyakit yang sudah sangat parah dan harus dioperasi.” Gita menyampaikan dengan nada sedih.
        (Aku sontak terkejut dengan berita ini, berarti selama ini Ayu terlihat gelisah dan sering marah-marah kepadaku karena ibunya menderita penyakit yang sangat parah, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, ia sudah tidak mempunyai seorang Ayah yang akan membuatnya tenang, Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih duduk di kelas 4 SD)
        Sorenya kemudian aku pergi kerumah sakit. Disana aku melihat Ayu sedang duduk didepan salah satu kamar rumah sakit, mungkin itu kamar ibunya. Aku segera menghampirinya.
        “Yu, bagaimana keadaan ibumu?.” tanyaku, mendengar aku ada didekatnya Ayu terkejut.
        “Ibu... ibuku ada didalam, kata dokter ibuku harus segera dioperasi besok pagi, aku tidak tau harus bagaimana, aku tidak tega melihat ibuku bila harus dioperasi, aku tidak mau kehilangan ibuku.” Ayu berkata sambil menangis.
        “Aku mengerti Yu, yang sabar ya, aku yakin Tuhan memiliki rencana yang indah dibalik semua ini.” aku memeluk Ayu sambil menenangkannya.
        “Terima kasih Ra, sudah memberikan semangat kepadaku, maafkan sikapku dahulu yang sering marah-marah kepadamu. Aku menyesal dengan apa yang telah aku ucapkan kepadamu.” Ayu berkata tergagap.
        “Aku sudah lama memaafkanmu Yu, aku harap kita bisa bersahabat seperti dahulu lagi.” aku berkata dengan nada penuh harapan.
        “Iya Ra, aku masih menganggapmu sahabat.” Ayu mengangguk pasti.
        Kami pun akhirnya bersahabat seperti dulu lagi, kali ini persahabatan kami terasa lebih indah karena aku dan Ayu sudah sama-sama berpikir dewasa. Ibu Ayu pun akhirnya sembuh setelah dioperasi dan diangkat penyakit tumornya. Kenangan manis dan pahit ini tak akan pernah aku lupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar